Pasar tisu basah telah berubah secara signifikan dari fokus awalnya pada perawatan bayi. Kebutuhan dan gaya hidup konsumen yang terus berubah mendorong pasar yang berkembang pesat dan sangat terfragmentasi saat ini. Setiap penggunaan membutuhkan formula, ukuran, dan kemasan yang berbeda, mulai dari perawatan hewan peliharaan, kosmetik, dan sanitasi industri hingga kebersihan pribadi dan pembersihan rumah. Selain itu, konsumen menjadi lebih selektif; mereka menginginkan bahan yang lebih aman, bahan yang mudah terurai, tekstur yang lebih lembut, dan bentuk yang mudah digunakan sesuai dengan jadwal mereka yang padat.
Karena keragaman ini, produsen tidak bisa lagi mengandalkan satu produk "satu ukuran untuk semua" untuk menguasai pasar. Peritel dan pemilik merek meminta beberapa SKU untuk menargetkan saluran penjualan atau demografi tertentu. Berdasarkan berbagai merek atau perjanjian label pribadi, satu bisnis dapat memproduksi tisu basah bayi untuk supermarket, tisu basah antimikroba untuk rumah sakit, tisu basah kosmetik untuk penjual produk kecantikan, dan tisu basah hewan peliharaan untuk pengecer online. Bahan nonwoven, komposisi cairan, pola lipatan, jumlah per kemasan, dan ukuran kantong setiap SKU berbeda-beda.
Pemasaran musiman, promo e-commerce, dan aturan regional menyebabkan tren pasar berubah dengan cepat. Pandemi, tren bahan baru, atau gerakan keberlanjutan dapat dengan cepat mengubah permintaan suatu produk. Produsen yang bergantung pada konfigurasi produksi SKU tunggal yang ketat dalam situasi ini sering kali mengalami hilangnya peluang, biaya pergantian yang tinggi, dan waktu henti yang panjang.
Di sisi lain, perusahaan dengan sistem manufaktur fleksibel multi-SKU dapat dengan cepat mengubah arah dan memperkenalkan format produk baru atau pesanan label pribadi dalam hitungan hari, alih-alih minggu. Di pasar yang persaingannya ditentukan oleh kecepatan, fleksibilitas, dan inovasi, responsivitas ini tidak hanya memenuhi harapan konsumen tetapi juga menghasilkan keunggulan strategis.
Pada akhirnya, bisnis yang dapat menyediakan keberagaman tanpa mengorbankan efisiensi—bisnis yang melihat fleksibilitas sebagai fondasi filosofi produksi mereka dan bukan fitur teknologi—akan diuntungkan oleh perubahan kebutuhan pasar.